Minggu, 26 Mei 2013

Pedang Damaskus, Legenda Pedang Terkuat Sepanjang Sejarah

Pada jaman keemasannya Islam sebenarnya sudah memiliki teknik Metalurgi yang cukup tinggi, hal ini dibuktikan dengan pernah dibuatnya Pedang Damaskus (Sword of Damascus). Pedang ini dibuat pada kisaran tahun 1100 sampai dengan tahun 1750, pedang ini terkenal dengan ketajamannya dan memiliki bahan yang kuat dan lentur.
Pedang Damaskus ini dikenal pertama kali melalui perang salib karena pada saat itu tentara Islam sudah menggunakan senjata ini dan perlengkapan lain yang memiliki bahan dasar seperti Pedang Damaskus ini.
Pedang Damaskus itu sendiri dikenal sebagai pedang yang digunakan oleh Salahuddin al Ayyubi, seorang sultan Mesir-Syria sekaligus panglima perang yang dapat merebut kembali Jerussalem dari tangan bangsa nasrani melaluiperang Hattin.
Pedangnya Salahuddin al Ayyubi, jendral dan pejuang muslim Kurdi dari Tikrit. Pedang ini dibuat dari baja damascus yang sangat keras namun lentur karena memiliki kandungan CNT (carbon nanotubes). Kabarnya pedang ini sangat tajam, saking tajamnya bisa dengan mudah menembus baju zirah Renald de Chatilon. Salahuddin terkenal di dunia Muslim dan Kristen karena kepemimpinan, kekuatan militer, dan sifatnya yang ksatria dan pengampun pada saat ia berperang melawan tentara salib. Sultan Salahuddin Al Ayyubi juga adalah seorang ulama.
Ada sebuah kisah tentang Pedang Damaskus dan Salahuddin al Ayyubi terutama yang berkaitan dengan perang salib,
Tahun 1192.  Richard yang Berhati Singa(Lion Heart), raja Inggris yang memimpin tentara Kristen dalam  Perang Salib III, bertemu dengan musuh bebuyutannya, pemimpin muslim Salahuddin  al-Ayyubi. Kedua pemimpin ini saling menghormati. Kedua pemimpin yang kemudian  menjadi legenda itu, demikian Sir Walter Scott mendramatisasi dalam novel The  Talisman, memamerkan senjata masing-masing.
Richard mengeluarkan  pedang lebar mengkilap buatan pandai besi terbaik Kepulauan Inggris. Salahuddin  menghunus pedang kesayangannya. Pedang lengkung buatan pandai besi di Damaskus yang  tidak mengkilap. kemudian Richard memapas sebuah kotak dari besi hingga putus dan Sallahudin Al Ayubi kemudian melepaskan kain sutra halus hingga terbang dan jatuh di permukaan Pedang Lengkung Damaskus dan kemudian sutra tersebut putus karena sangat tajamnya pedang.
Teknik pembuatan pedang damaskus ini begitu rahasia sehingga hanya beberapa keluarga pandai besi di Damascus saja yang menguasainya. Ini juga yang menyebabkan teknik pembuatan baja Damascus akhirnya punah.Hingga kini teknologi metalurgi yg paling canggih pun belum mampu membuat pedang yg lebih tajam dari pedang damaskus.
Sebuah penelitian mikroskopik menemukan bahwa pedang-pedang ini ternyata memiliki semacam lapisan kaca dipermukaannya.Bisa dikatakan para ilmuwan muslim di timur tengah telah mencapai teknologi Nano sejak seribu tahun yg lalu. Beberapa ahli metalurgi modern mengaku berhasil membuat baja yg sangat mirip dengan baja Damascus , namun tetap belum berhasil meniru 100 persen.
Teknik pembuatan Pedang Damaskus termasuk salah satu pengetahuan Islam yg hilang. Pedang, tombak dan Pisau Damascus yg tersisa kini tersebar di berbagai Museum di seluruh dunia.
John Verhouven di Universitas Iowa telah menemukan bahwa hanya tipe tertentu dari wadah khusus untuk melebur baja, elemen lain seperti vanadium, akan menghasilkan pola yang tepat. Dan pada tahun 2006, para peneliti di Universitas Teknik Dresden, Jerman, mempelajari pedang prajurit Islam dengan mikroskop elektron dan menemukan bahwa kekuatan pedang mereka mungkin berasal dari nanotube karbon dan kawat nano yang dibuat dari mineral yang disebut sementit. Struktur serupa akan menghasilkan bahan komposit modern yang kuat. Namun, resep tepat untuk membuat pedang prajurit Islam itu masih menjadi misteri.
Nanoteknologi
Dengan teknologi terkini, diketahui bahwa efek pola air yang dimiliki oleh pedang Damaskus diperoleh dengan menempa baja yang mengandung proporsi jumlah karbon yang besar. Daerah gelap pada permukaan pedang akibat pola yang dibuat residu karbon, sedangkan pola terang dibentuk oleh partikel ikatan karbit besi. Kandungan karbon yang tinggi memungkinkan diperolehnya pedang dengan ketahanan tinggi, namun kehadiran karbon di campuran bahan mentah sangat sulit atau hampir tidak mungkin untuk dikontrol. Terlalu sedikit karbon menyebabkan pedang menjadi lemah, namun terlalu banyak karbon menyebabkan pedang menjadi getas. Bila proses pembuatan pedang tidak berlangsung dengan baik, baja akan membentuk besi sementit, fase besi yang sangat rentan. Namun, para ahli metalurgi Islam mampu mengontrol kerentanan inheren dan menempa bahan mentah tersebut menjadi senjata. Suatu artikel jurnal di Nature menceritakan bahwa tim riset yang diketuai oleh Peter Paulfer dari universitas Dresden memiliki ide yang menceritakan mengapa baja karbon dapat dibuat dan mengapa saat ini menghilang. Ide tersebut didasari oleh ilmu pengetahuan material modern: Nanoteknologi, hal yang sulit terpikirkan pada abad ke-17.
Pembuatan baja telah dipelajari dengan seksama dan didokumentasikan oleh para ilmuan muslim. Ilmu diturunkan bagi para ahli pedang di Dunia Islam, yang menjaga dengan baik rahasia ini. Baja Damaskus sangat berharga karena menggabungkan antara kekuatan, elastisitas dan ketahanannya. Saat ini, ilmu mengenai teknik membuat baja Damaskus telah menghilang. Walaupun pembuatan baja telah berkembang dengan pesat, namun para peneliti sampai saat ini masih saja kesulitan untuk meniru dan membuat baja yang mirip dengan baja Damaskus. Dapat kita lihat bahwa ilmuan Islam pada abad 7 sudah memiliki kehebatan dalam pengembangan teknologi material yang bahkan melebihi bangsa lainnya.


0 komentar:

Poskan Komentar

 

Copyright © Hidupku Inspirasiku Design by O Pregador | Blogger Theme by Blogger Template de luxo | Powered by Blogger