Minggu, 06 Januari 2013

Aceh, Ureung Raya Haba! (Orang Besar Ngomong)


Entah benar atau tidak rumor yang sering terdengar dikebanyakan masyarakat kita bahwa “Raya Haba” atau Besar Ngomong identik dengan kehidupan orang Aceh. Saya sempat ragu dengan usikan tersebut, namun ketika saya mencoba untuk menelaah lebih jauh usikan tersebut memang ada benarnya. Orang raya haba biasanya selalu membanggakan diri didepan orang lain dan ia mengklaim bahwa apa yang dilakukannya adalah hal yang terbaik dan selalu berhasil namun sayangnya keberhasilannya itu tanpa diiringi oleh bukti apapun bahkan ia selalu meremehkan setiap keberhasilan orang lain.

Dalam konteks Aceh orang Raya Haba atau “Besar Ngomong” memiliki dasar historisnya, ini terlihat pada sejumlah hadih maja yang diungkapkan orang-orang Aceh pada masa lalu misalnya istilah ‘cet langet’ atau mengecat langit, hal tersebut diibaratkan bagi orang yang kebanyakan berhayal dan raya haba. Orang raya haba lazimnya selalu berbenturan antara ungkapan yang pernah dikemukakan dengan perbuatan yang dilakukannya.
Selain dari cot langet dalam tataran masyarakat Aceh orang raya haba juga dikenal dengan istilah lain yakni, “pugah aba lua nanggroe, taloe keuing ngom” (ngomong ke luar negeri, tali pinggang terbuat dari ngom (sejenis – rumput-red), hal tersebut mengindikasikan bahwa salah satu sifat orang Aceh yang besar ngomong. Fenomenaraya haba ini sudah menjadi tradisi dalam kehidupan masyarakat Aceh dan hingga sekarang fenomena tersebut masih ada.
Dua contoh ungkapan hadih maja yang telah disebutkan, biasanya keluar dari mulut orang-orang yang sering raya haba atau terlalu banyak berhayal. Fenomena seperti ini bahkan sudah menjadi hal yang lumrah bagi masyarakat Aceh karena hal tersebut sudah terjadi secara turun temurun, akan tetapi sangat disayangkan bila fenomena ini tetap di pertahankan maka kedepan Aceh bakal di cap oleh masyarakat lain sebagai “Aceh, Ureung Raya Haba” atau Aceh, orang besar ngomong. Fenomena-fenomena seperti ini terlihat pada tempat-tempat perkumpulan masyarakat misalnya di warung-warung kopi, di pasar-pasar dan lain sebagainya.
Muhammad Harun dalam buku “memahami orang Aceh” menuliskan orang yang besar cakap adalah orang yang suka bicara apa saja yang dikehendakinya meskipun orangdisekelilingnya tidak senang dengan pembicaraannya tetapi ia tetap saja meneruskannya sampai kadang-kadang membuat orang bosan dan menghindarinya pada waktu yang lain, karena takut tersita waktu untuk mendengar ceritanya. Bahkan dalam hadih maja juga dikatakan, “lagei ureung peh tem” (seperti orang memukul kaleng), hadih majah lainnya lagei ureung peh tong soh (seperti orang memukul tong kosong).
Menurut Muhammad Harun, ungkapan yang diawali kata lagee ‘seperti’ yang memfokuskan maksud pada subjek pelaku. Artinya, seseorang dapat dikatakan tidak baik jika ia suka berbicara banyak, tapi tidak berisi . Orang yang memukul kaleng dalam hal ini dimaksudkan orang yang besar cakap seperti layaknya kaleng yang berbunyi tang-teng kalau di pukul. Bahkan dalam istilah melayu orang cakap besar juga dikenal dengan tong kosong nyaring bunyinya.
Jika fenomena ini dibiarkan maka karakter watak orang Aceh yang sebelumnya dikenal memiliki sifat “ke-Pungoe-an” (ke-gila-an) dalam konotasi positif akan musnah seiring dengan munculnya fenomena raya haba, sehingga citra Aceh yang dulunya digambarkan sebagai sang pemberani, tangguh, tegas dan konsisten akan terkikis secara perlahan-lahan dimata dunia.
Lebih parahnya lagi bila fenomena raya haba telah menyebar kedalam diri generasi muda Aceh sekarang, maka hal tersebut akan menjadi hantu bagi Provinsi Aceh dalam upaya membangun Aceh kearah yang lebih maju karena baik buruknya sebuah daerah kedepannya sangat tergantung pada generasi muda.
Jika generasi raya haba tidak segera dibasmi mulai saat ini kedepan Aceh akan melahirkan sejumlah pemimpin-pemimpin yang raya haba. Para pemimpin tersebut hanya bisa raya haba sedangkan program-program pembangunan tak pernah terwujud atau dalam istilah dikenal dengan “Pajoh Jaloe, Toh Kapai” (makan perahu, kotorannya kapal).
Oleh itu, untuk membangun Aceh agar bisa lebih maju maka mulai dari sekarang perlu dipersiapkan generasi yang memiliki tipikal-tipikal yang memajukan daerah antara lain, pemikir, pekerja keras, kreatif, inovatif, dan yang paling penting tidak raya haba sehingga Aceh kedepannya lebih baik dan siap bersaing secara kompetitif dengan wilayah lain di dunia.
Pembentukkan karakter generasi tersebut bukanlah hal yang bisa dianggap enteng karena itu persoalaan yang sangat serius sehingga perlu adanya upaya yang riil dari semua pihak terutama Pemerintah Aceh, karena bila tidak segera tertanggulangi maka tidak tertutup kemugkinan Aceh yang dulunya dikenal dengan sifat ke-pungoe-an tapi kini hanya dikenal dengan “Aceh, Ureung Raya Haba”. Pertanyaaan siapkah kah kita digelar dengan Aceh, Ureung Raya Haba?. Mudah-mudahan dengan adanya perhatian khusus dari pemerintah Aceh kedepan akan melahirkan pemimpin-pemimpin yang memiliki integritas tinggi, kredibel, kompetensi, kritis dan siap bersaing dalam upaya membangun Aceh yang lebih maju dan bermartabat baik ditingkat nasional maupun dunia internasional..waallahu’alam bissawab.

0 komentar:

Poskan Komentar

 

Copyright © Hidupku Inspirasiku Design by O Pregador | Blogger Theme by Blogger Template de luxo | Powered by Blogger