Minggu, 06 Januari 2013

Tirulah Umar Bin Khattab kalau Mau Blusukan


Kisah berhikmah tentang blusukannya khalifah Umar Bin Khattab, saya dengar ketika SD. Berulang kali saya dapatkan dari guru agama atau dari ceramah radio atau televisi Almarhum K H Zainuddin M. Z. Sebagian besar dari anda juga banyak tahu tentang kisah berhikmah blusukannya khalifah Umar Bin Khattab ini.

Kurang lebih kisah berhikmah blusukannya khalifah Umar Bin Khattab sebagai berikut: Alkisah setelah diangkat menjadi khalifah, pada tengah malam Umar RA menyamar menjadi orang biasa. Sang Khalifah kemudian keluar masuk kampung untuk melihat kondisi warganya. Hingga pada suatu malam setelah rangkaian safari blusukan sebelumnya, Umar RA melihat sendiri suatu peristiwa mengharukan. Kala itu Sang Khalifah mendengar rengekan anak pada tengah malam. Mendekatlah Umar RA pada sebuah rumah warganya. Ketika masuk rumah sumber suara rengekan, Sang Khalifah menyaksikan ibu si anak sedang merebus tiga buah batu. Terjadilah percakapan mengenai mengapa ibu tega melakukan itu. Terharulah Umar RA mendengar alasan si ibu, demi menenangkan lapar si anak si ibu rela berpura-pura memasak tiga buah batu agar anak terlelap karena memang tidak punya bahan makan sama sekali yang harus diolah. Segera malam itu juga Sang Khalifah bersama pengawalnya “mengambil” bahan makanan di Baitul Maal (semacam Bulog sekarang) untuk diberi kepada ibu pemasak batu, padahal kala itu dicegah oleh penjaga Gudang Makanan.
Citra
Nah saat ini di Indonesia sedang tren model blusukan para pemimpin ke kampung-kampung. Beranikah para pemimpin itu meniru model blusukan Umar RA? Tentu dari kisah berhikmah blusukannya khalifah Umar Bin Khattab, tidak harus mencontoh 100 % atau ideal. Setidak ada hikmah yang bisa dibuat pelajaran bagaimana model blusukan itu. Pertama, Sang Khalifah tidak mementingkan citranya sebagai pemimpin. Umar RA rela menjadi orang lain demi blusukan ke kampung-kampung. Lebih jauh, beranikah para pemimpin saat ini ketika sedang blusukan tidak membawa rombongan, apalagi rombongan media? Ya bukan lagi mementingkan citra tapi biar rakyat yang menilai sendiri prestasi kerja para pemimpin.
Kedua, Umar Bin Khattab tidak mementingkan birokrasi yang ribet. Hal ini ditunjukkanya dengan segera memanggul sekarung Gandum dari Baitul Maal ke rumah ibu pemasak batu.  Lebih jauh, beranikah para pemimpin saat ini yang sedang blusukan tidak hanya sekedar menunjukkan empati dan simpati, tetapi juga langsung menunjukkan aksinya. Misal ketika ada yang mengadu begini-begitu, tanpa harus melewati urusan birokrasi yang ribet, para pemimpin yang sedang melakukan blusukan langsung memberikan solusi bukan janji.
Nah, Beranikah meniru model blusukannya khalifah Umar Bin Khattab?

0 komentar:

Posting Komentar

 

Copyright © Hidupku Inspirasiku Design by O Pregador | Blogger Theme by Blogger Template de luxo | Powered by Blogger