Selasa, 18 Desember 2012

Sikap dan Pandangan Hidup Orang Aceh sebagai Makhluk Ciptaan Tuhan


Sebagaimana kita ketahui, Aceh sering sekali diidentikkan dengan Islam. Gelar Seuramoe Meukah yang ditabalkan untuk provinsi ini pada masa lalu hingga hari ini menjadi bukti untuk itu. Pemberian hak un­tuk memberlakukan syariat Islam dalam era otonomi khusus saat ini menjadi bukti lain dari pengindentikan Aceh dengan Islam. Kar­enanya, sebagai sebuah komunitas muslim, masyarakat Aceh tentu saja melihat segala sesuatu dari sudut kacamata Islam. Mer­eka sangat percaya bahwa segala sesuatu yang ada di dunia ini berasal dari Allah dan akan kembali kepada-Nya. Kekuasaan Allah tak berbatas. Hal ini bukanlah sebuah jar­gon semata. Allah-lah yang menghidupkan dan mematikan seseorang, Allah juga yang memberi rezeki pada seseorang untuk tetap survive, bertahan hidup, di dunia fana ini.

Pemikiran tentang kemahakuasaan Allah se­bagai khalik dan keterbatasan manusia se­bagai makhluk banyak sekali diungkapkan dalam hadih maja Aceh. Hal ini, misalnya dapat dilihat dalam hadih maja, “Allah bri, Allah boh” ‘Allah yang beri, Allah pula yang ambil (buang)’.
Hadih maja itu merefleksikan pandangan orang Aceh terhadap keberadaan sesuatu. Hadih maja ini digunakan untuk menyadar­kan dan mengingatkan seseorang bahwa segala sesuatu berasal dari Allah dan akan kembali kepada Allah. Karenanya, jangan terlalu sombong bila mendapatkan sesuatu dan jangan pula bersedih saat sesuatu itu hi­lang. Pada awalnya kita memang tidak punya apa-apa dan pada akhirnya kita pun akan kembali tidak memiliki apa-apa.
Konsep pemikiran di atas selanjutnya di­lahirkan dalam bentuk hadih maja: “ujôb teumeu’a ria teukabô, di sinan nyang le ure­ueng binasa” ‘ujub, summah, riya, takabur, di situ yang banyak orang binasa’.
Hadih maja ini secara tersirat mengungkap­kan bahwa ada kekuasaan lain yang men­gatur kehidupan manusia, yaitu Allah swt. Karena itu, kita tidak perlu sombong, apal­agi takabur. Kesombongan dan ketakaburan akan membuat seseorang menjadi celaka, tidak dihargai, dan akan mendapatkan ber­bagai sanksi, baik dari anggota masyarakat di sekitar maupun Tuhan sebagai penguasa yang tak berbatas kekuasaannya.
Konsep ketakterbatasan kekuasaan Tuhan versus kenisbian/ keterbatasn manusia juga berpengaruh pada pola pandang terhadap hal-hal yang berkaitan dengan ritual kehidu­pan. Hal ini, misalnya, terungkap dalam ha­dih maja, ”Langkah raseuki peuteumuen mawot, h’ana kuasa geutanyo hamba” ‘lang­kah, rezki, pertemuan, maut, di luar kekua­saan kita (hamba Allah)’.
Hadih maja ini digunakan untuk mengingat­kan bahwa setiap orang mempunyai suratan kadar masing-masing sejak ia belum lahir. Hal ini merupakan pengejawantahan makna yang terkandung dalam salah rukun iman, yaitu percaya pada qada dan qadar. Kare­nanya, sebagai manusia kita idealnya tidak merasa pongah, tidak sombong, saat Allah memberi kesempatan untuk hidup di atas dunia yang fana ini. Kepongahan dan kesom­bongan akan membuat orang lupa diri. Akan membuat orang merasa seakan memiliki ja­tah hidup dan kekuasaan selama-lamanya di dunia ini. Dan, hal itu akan disindir melalui hadih maja “Kullu nafsin geubeuet bak ulèe, nyan barô tathèe tatinggai dônya” ‘Kullu naf­sin dibacakan di kepala, baru kita sadari har­us meninggalkan dunia’.

0 komentar:

Poskan Komentar

 

Copyright © Hidupku Inspirasiku Design by O Pregador | Blogger Theme by Blogger Template de luxo | Powered by Blogger