Senin, 23 Desember 2013

ANAK LAKI-LAKI

Gue selalu percaya, anak laki-laki haruslah bandel. Bandel di sini maksud gue adalah tetap penasaran dan mengejar apa yang benar-benar dia pengen. Waktu kecil, gue pernah jatuh dari pohon cuma karena gue pengen niruin gaya Smack Down Ray Misterio. Gue pernah diomelin gara-gara nyebur ke kali cuma karena penasaran gimana rasanya nangkep ikan Lele pake tangan kosong. Yang paling klise, gue pernah digampar Guru karena waktu SMP gue ketahuan ngerokok. Gue jatuh, gue dimarahin, gue digampar. Tapi gue puas. Gue melakukan hal-hal tadi karena gue penasaran, gue pengen tau, dan gue puas karena akhirnya gue tau.
Dan meski udah dikasih tau, udah diomelin, udah kena batunya, dalam beberapa kasus gue nggak berhenti melakukannya. Gue tetap niruin gaya Smack Down di hari berikutnya, terus masih suka nyari ikan Lele dengan tangan kosong, dan masih tetap merokok waktu itu. Lalu apa yang membuat gue berhenti melakukan itu semua? Gue percaya anak laki-laki akan berhenti melakukan apa yang buruk, jika akhirnya sadar bahwa itu nggak ada manfaatnya sama sekali, atau karena menemukan hal yang lebih berarti. Gue berhasil berhenti niruin gaya Smack Down karena kenal basket pas SMA jadi ganti pengen niruin Michael Jordan, Reggie Miller, Tony Parker, atau Kevin Durant (untuk zaman sekarang). Gue akhirnya pensiun, gue berhenti merokok ketika gue selesai menanyakan kepada beberapa temen cewek di kelas gue pertanyaan paling mendasar, “Lo lebih suka cowok yang ngerokok apa nggak sih?” Dari sekitar delapan orang yang gue tanya, semuanya bilang, “Lebih suka yang nggak ngerokok lah,” dengan yakinnya. Waktu itu gue mikir, Lantas buat apa selama ini gue ngerokok? Semuanya sia-sia aja kalau gue ngerokok cuma biar kelihatan keren di depan temen-temen gue yang cowok. Gue kan mau narik perhatian cewek, bukan cowok. Gue nggak akan menyalahkan itu. Tapi yang gue gelisahkan adalah, anak laki-laki harusnya keras kepala. Ketika dia menginginkan sesuatu, kejar, sampai dapat, sampai terjatuh-jatuh, bahkan berdarah-darah. Bukan baru kena ujian sekali, terus balik kanan, pergi, dan menyerah. Bukannya anak laki-laki sudah biasa jatuh dan berdarah ketika dia pengen sekali bisa naik sepeda? Bukannya anak laki-laki sudah biasa tertusuk beling sampai berdarah dengan kaki telanjang melintasi kebon cuma untuk mengejar layangan putus? Lalu kenapa akhir-akhir ini gue sering melihat dan mendengar cerita temen laki-laki dan beberapa orang yang gue kenal, menyerah dalam mengejar sesuatu yang lebih berharga dari sepeda dan layangan, yaitu perempuan, cintanya, (yang katanya) kebahagiaannya? Biarlah para perempuan saja yang ribet, toh memang mereka sudah mengakui bahwa perempuan itu ribet. Laki-laki, tak perlu ikut-ikutan ribet. Yang gue tau, orang yang mau menghubungi duluan aja kebanyakan mikir, takut ganggu lah, takut gak dibales lah, malu lah, itu perempuan. Kalau laki-laki juga kayak gitu, gimana bisa perempuan mau? Perempuan ribet, berarti tandanya butuh laki-laki sederhana, yang tegas. Perempuan kan mau pacarannya sama laki-laki. Kalau laki-laki sama ribetnya kayak perempuan, ya mending pacaran sama perempuan lagi aja sekalian. Untuk mendapatkan hati perempuan, berhentilah bersikap dan berpikir seperti perempuan. Sederhanalah. Tegaslah. Mungkin pernyataan gue kali ini terkesan terlalu membela perempuan. Memang ya, tapi hanya perempuan-perempuan yang nggak menuhankan gengsi yang gue bela. Memang perempuan harus punya gengsi, tapi bukan harus jadi munafik dengan menutup dan membohongi diri agar terlihat ‘nggak suka’ di depan orang yang sebenernya disukai abis-abisan. Gengsilah secukupnya. Terlebih dari itu semua, maksud dari tulisan gue adalah buat sama-sama mengingat bahwa gue, dan para laki-laki yang baca tulisan ini pernah bandel waktu kecil. Jangan sampai kita lebih ‘laki’ dan lebih pemberani waktu kecil dibanding sekarang. Gue nggak suka konfrontasi. Sekali lagi, sebutlah gue kuno, tapi gue rasa memang sudah benar bahwa perempuan yang dikejar, dan laki-laki mengejar. Sekarang tugas perempuan dan laki-laki hanyalah untuk menjadi sekooperatif mungkin. Perempuan membuat dirinya layak untuk dikejar, layak untuk diperjuangkan, dan laki-laki mengejar sambil meningkatkan kualitas diri agar layak diterima. Sederhana, bukan? Gue sadar pada kenyataannya nggak sesederhana itu. Tapi gue yakin, kita, para laki-laki kan sudah biasa bandel. Masa cobaan segitu doang udah bikin nyerah buat ngejar seseorang yang katanya berharga? Come on boys! Be brave! Prove you’re the man!

0 komentar:

Poskan Komentar

 

Copyright © Hidupku Inspirasiku Design by O Pregador | Blogger Theme by Blogger Template de luxo | Powered by Blogger